Essay Sejarah
Bukan
hanya pada relief yang mendapat pengaruh dari kebudayaan dan kesenian Cina,
sebagian besar bangunan di kompleks Masjid Mantingan mendapat pengaruh dari
Cina. Misalnya, pada pintu utama masjid yang berwarna merah , dan berbeda
dengan pintu Masjid di Jawa pada umumnya yang berwarna cokelat.
Masjid Mantingan
dalam Tinjauan Arkeologis
Pendahuluan
Peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah,
dan majuSetiap perdaban suatu masyarakat
pasti akan memengaruhi sendi-sendi kehidupan, salah satunya adalah dalam hal
bangunan. Bagunan dalam masyarakat selalu di pengaruhi oleh kebudayaan.
Demikian juga, perkembangan bangunan akan berbanding lurus dengan kebudayaannya.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengambil bangunan sebagai contoh dari
peradaban yang ada.
Dari
sekian banyak bangunan bersejarah dan memiliki nilai seni tinggi, penulis akan
membahas mengenai Masjid Mantingan, di Jepara. Penulis tertarik untuk mengambil
bahasan ini, karena Masjid Mantingan memiliki nilai sejarah yang tinggi, dan
merupakan perwujudan akulturasi kebudayaan yang pernah berkembang di Indonesia.
Khususnya perkembangan peradaban Islam . Bangunan ini sebagai salah satu
sumbangan Indonesia terhadap peradaban dunia.
Pembahasan
Sejarah
Masjid
Mantingan yang terletak di kabupaten Jepara, merupakan masjid kuno kedua di
Jawa, setelah Masjid Agung Demak, yang dibangun pada tahun 1481 Saka
atau tahun 1559 Masehi berdasarkan candrasengkala yang terukir pada mihrab Masjid Mantingan berbunyi “Rupa
Brahmana Warna Sari”. Pembangunan masjid ini berkait dengan Putra Mughayat
Syah, Sultan Aceh, yang bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan
di Aceh ini menimba ilmu ke Tanah Suci dan Negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah.
Ia pergi ke Jawa (Jepara) dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), Putri Sultan Trenggono, Sultan Kerajaan Demak. Akhirnya dia mendapat gelar Sultan Hadlirin dan sekaligus dinobatkan sebagai adipati Jepara hingga
wafat.
Masjid
Mantingan sebagai salah satu konsep Masjid-Makam-Keraton, karena di sanalah
disemayamkan Sultan Hadlirin.
Bentuk
Masjid Mantingan merupakan tipologi masjid kuno Jawa yaitu konstruksi atap yang
menggunakan sokoguru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denah yang
berbentuk segi empat, dan terdapat makam di belakang masjid.
Tinjauan Arkeologis Masjid
Mantingan
Masjid
1. Lantai
Awalnya Masjid Mantingan didirikan
dengan lantai tinggi dan tertutup ubin yang berbeda dengan ubin di Jawa pada
umumnya. Ubin bikinan Tiongkok dengan warna hitam, dan undak-undakannya juga
terbuat dari bahan yang sama. Kemudian dilakukan perbaikan, lantainya diganti ubin
biasa dengan warna kuning, dan akhirnya diganti dengan batu marmer yang
bertahan sampai sekarang.
2.
Tembok
Tembok masjid terdiri dari dua
lapisan . Lapisan dalam terbuat dari batu putih, sedangkan lapisan luar terbuat
dari batu-bata merah, kemudian dilapisi dengan pasir dan semen. Dinding
luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar khas Cina, berwarna biru. Sedang
dinding sebelah tempat imam dan khatib (mihrab) dihiasi dengan relief persegi
bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua
. Pada dinding ini terdapat relief
rendah (ukiran
yang sedikit menonjol dari dasar permukaan dinding. Tonjolan atau kedalaman
ukirannya bervariasi),
dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang
tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28
panel. Terdapat hiasan medalion bulat di dinding yang ditempel di kiri kanan
tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.
Pemugaran
terakhir mengakibatkan perubahan bentuk masjid tiang serambi depan di bongkar
dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan
sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang
terdapat panel berelief.
3.
Tiang
Tiang Masjid Mantingan terbuat dari kayu
saka seperti di masjid-masjid kuno yang ada di Jawa . Setelah pemugaran
terakhir tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah .
4.
Pintu
Masjid
Mantingan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda, ketiga
pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Kalau
diperhatikan warna pintu Masjid Mantingan mengingatkan pada pintu bergaya Cina,
seperti di Klenteng. Pintu masjid memiliki warna merah, berbeda dengan masjid
kuno di Jawa pada umumnya yang berwarna coklat.
5. Atap
Atap
Masjid Mantingan pertama kali sebelum pemugaran memiliki kemiripan dengan atap
tumpang bersusun tiga. Namun, setelah pemugaran menjadi satu atap. Bangunan atap termasuk bubungan gaya Tiongkok
terlihat
dari bentuknya yang mirip pelana, dengan ujung yang melengkung ke atas, yang
disebut sebagai model Ngang Shan. Awal berdiri atap masjid ini terbuat
dari genteng kayu, kemudian diganti dengan genteng tanah liat dari mayong. Tapi
akhirnya dikembalikan oleh dinas kepurbakalaan menjadi genteng kayu lagi.
6. Ragam Hias
Ragam
hias yang terdapat di Mantingan sangat menarik karena hiasan yang berbentuk
relief dipahatkan pada panel-panel. Bentuk panel ada yang bulat (medalion),
roset, bujur sangkar, empat persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk
lengkung kurawal, dan ada pula berbentuk kelelawar. Panel-panel ini berisi
relief yang menggambarkan.
-Tumbuh-tumbuhan
,daun dan ,bunga . missalnya, teratai, sulur-suluran, labu air,
pandan, kangkung, nipah, bambu, paku, kelapa,
sagu dan kamboja.
-Binatang
yang disamarkan seperti angsa, burung, ular, kuda, kijang, gajah, kera,
ketam dan kelelawar.
-Rumah
panggung, pagar, gapura dan bentar.
-Gunung
dan matahari.
-Motif
makara yang disamarkan.
-Anyaman
(jalinan).
Kalau diperhatikan kebanyakan
relief memiliki kemiripan dengan relief atau ukiran dari Cina .Hal ini
menunjukkan pengaruh dari Seni Budaya Cina terhadap Masjid Mantingan.
7.
Bahan Bangunan
Bahan bangunan masjid kebanyakan terbuat
dari kayu yang berasal dari Mantingan. Patih Sungging Badar Duwung atau yang sering dipanggil Tjie Wie
Gwan, juga meminta untuk mendatangkan
beberapa hiasan dan ubin dari Makau. Sementara ukiran masjid menggunakan batu
putih yang saat itu banyak tersedia di Mantingan.
Gapura
Masjid
Mantingan memiliki gapura yang terletak di jalan menuju masjid, dekat masjid,
dan makam .Gapura di jalan menuju makam telah mengalami pemugaran, yang
mengakibatkan perubahan bentuk Gapura. Gapura di masjid dan makam mirip dengan
Candi Panataran, Jawa Timur. Kedua Gapura ini sangat mirip, hanya saja di makam
terdapat pintu.
Makam
Makam Mantingan terletak di
belakang masjid. Letaknya membujur kebelakang, terdiri atas tiga bagian. Masing
masing bagian dibatasi dengan tembok dan memiliki pintu gerbang. Sesuai dengan
bentuk makam kuno, letak makam menunjukkan kedudukan sosial dari orang yang
dimakamkan. Teras pertama letaknya paling bawah merupakan pemakaman umum, teras
kedua untuk pemakaman orang yang statusnya cukup tinggi termasuk abdi terdekat
Ratu Kalinyamat. Sedangkan teras ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya
tinggi, terutama yang di dalam cungkup.Teras terbawah, pintu gerbangnya berupa
candi bentar yang terbuat dari batu bata. Pintu ini seperti candi terbelah yang
di tengahnya bisa untuk dilewati pengunjung. Diantara teras bawah dan teras
berikutnya diberi sekat berupa tembok keliling yang juga terbuat dari batu bata
merah. Sedangkan teras teratas pintu gerbangnya berupa Paduraksa,
yaitu semacam candi yang bagian tengahnya berlubang. Pada lubang ini ada pintu
yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk gerbang semacam ini dalam pemakaman jawa
dikenal sebagai tempat suci atau disucikan. Pada teras teratas, terdapat
bangunan cungkup makam terbuat dari bata merah dan memiliki 2 pintu. Diantara 2
pintu ini terdapat papan batu putih bertuliskan ‘’ Yasanipun Kanjeng Raden
Mas Panji Sosroningrat. Tumenggung Nagari Jepara 1812’’. Pada makam dalam
cungkup ini dimakamkan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadirin dan keluarga dekatnya.
Batu nisan pada makam Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat dihias dengan
ornamen, sebagai tanda pemakaman seorang pemimpin atau keluarga raja.
Keunikan Masjid Mantingan
Keindahan
Masjid Mantingan dari segi arsitektural memiliki konstruksi bangunan yang kuat
dan banyak ornamen yang diterapkan. Keberadaan masjid dan makam tidak dapat terpisahkan.
Masjid dan makam memiliki posisi yang khas. Letak makam yang berada disebelah
barat masjid, memberikan kesan penghormatan terhadap tokoh-tokoh penting seperti,
Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.
Pengaruh Kebudayaan dan Kesenian di
Masjid Mantingan
Masjid
Mantingan merupakan masjid yang mendapat pengaruh dari beberapa kesenian dan
kebudayaan, yang dapat dilihat persamaannya dengan kesenian dan kebudayaan
lain. Pengaruh kebudayaannya sebagai berikut:
Hindu
Adanya perbedaan motif ukir di Jepara dengan motif ukir di Masjid Mantingan, dan persamaan motif ukiran Masjid Mantingan dengan motif ukir kerajaan Hindu, menunjukkan pengaruh kebudayaan di masjid tersebut. Cerita Ramayana di balik relief dan bentuk gapura yang menyerupai gapura di Candi Panataran Jawa Timur merupakan pengaruh kebudayaan Hindu. Ciri-ciri dari motif Majapahit secara umum merupakan kombinasi antara bentuk cekung dan cembung, yang mirip di Masjid Mantingan.
Jawa
Kompleks
makam yang dibuat atas tiga bagian dan masing-masing bagian dibatasi dengan tembok
dan memiliki pintu gerbang, merupakan ciri dari kehidupan orang Jawa dalam
memberikan penghormatan pada penguasa dengan menunjukkan kedudukan sosial.
Cina
Motif
relief yang ada di Masjid Mantingan mirip dengan budaya Cina dalam
Arsitektur.Yaitu ornamen yang ada beragam, dari ornamen geometris,
motif
tanaman, dan binatang.
Islam
Mungkin
orang awam yang melihat hiasan masjid ini, menganggap sebagai hiasan biasa.
Namun apabila di tela’ah, akan terlihat pengaruh kebudayaan dan kesenian Islam
pada masjid ini. Yaitu relief-relief berbentuk hewan dan manusia, yang
disamarkan dengan macam-macam tumbuhan dan kaligrafi.
Dari
sekian pengaruh kebudayaan dan kesenian di Masjid Mantingan, Cina yang banyak
berperan pada pengaruh masjid tersebut. Dengan demikian memperkuat teori yang
telah ada, yaitu Islam datang ke Nusantara dibawa dari Arab , Persia ( Timur
Tengah ), India, dan Cina.
Simpulan
Masjid
Mantingan merupakan sebuah bangunan yang terpengaruh akulturasi kebudayaan dan
kesenian. Masjid ini di bangun pada masa peralihan dari peradaban Hindu-Buddha
ke peradaban Islam. Dapat dilihat dari ciri-ciri bangunan dan relief yang ada
di masjid ini, dan diketahui asal-usul dari peradaban Islam di Nusantara dan
dunia. Kemajuan peradaban Islam di masa itu , khususnya dari kebudayaan dan
kesenian sangatlah pesat .Hal ini berbanding lurus dengan peradaban Islam di dunia.
Bangunan ini memperkuat teori yang telah ada, yaitu Islam datang ke Nusantara
dibawa dari Arab, Persia ( Timur Tengah ), India, dan Cina. Sebagai orang
Indonesia khusunya generasi muda, hendaknya mengetahui dan mempelajari
nilai-nilai sejarah suatu bangunan di daerah sekitar.Dengan mengetahui sejarah
tersebut, dapat pula mengetahui, bagaimana peradaban di masa tersebut. Belum
adanya pencatatan tertulis mengenai sejarah Masjid Mantingan secara jelas,
menimbulkan perbedaan pendapat antara satu orang dengan orang lain. Oleh karena
itu, penulis menyarankan kepada Pemerintah untuk membuat naskah sejarah yang
jelas dan benar, agar tidak timbul perbedaan pendapat mengenai sejarah Masjid
ini. Sejarah adalah ilmu yang didasarkan pada teori dan kenyataan yang ada, bukan
ilmu yang didasarkan pada pendapat.
Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Mantingan.
Akses: 26 Oktober 2015. Pukul: 22.00 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Relief.
Akses: 28 Oktober 2015. Pukul: 07.10 WIB.
Mundzirin Yusuf,dkk. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta:
Penerbit Pustaka, 2006.
Mustafiq Shiddiqin. Motif-Motif Kerajaan. fattah-mustafiqshiddiqin.blogspot.co.id.
Akses: 27 Oktober 2015. Pukul: 19.00 WIB.
Toto
Ringgo. Hiasan Ukir Dinding. durantique.blogspot.co.id.
Akses: 27 Oktober 2015. Pukul: 19.00 WIB.
http://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-peradaban-ciri-ciri-para-ahli-peradaban.html.
Akses: 28 Oktober 2015. Pukul: 07.10 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar