Cari Blog Ini

Selasa, 17 November 2015

Essay Sejarah


Masjid Mantingan
dalam Tinjauan Arkeologis
Pendahuluan
Peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan majuSetiap perdaban suatu masyarakat pasti akan memengaruhi sendi-sendi kehidupan, salah satunya adalah dalam hal bangunan. Bagunan dalam masyarakat selalu di pengaruhi oleh kebudayaan. Demikian juga, perkembangan bangunan akan berbanding lurus dengan kebudayaannya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengambil bangunan sebagai contoh dari peradaban yang ada.
Dari sekian banyak bangunan bersejarah dan memiliki nilai seni tinggi, penulis akan membahas mengenai Masjid Mantingan, di Jepara. Penulis tertarik untuk mengambil bahasan ini, karena Masjid Mantingan memiliki nilai sejarah yang tinggi, dan merupakan perwujudan akulturasi kebudayaan yang pernah berkembang di Indonesia. Khususnya perkembangan peradaban Islam . Bangunan ini sebagai salah satu sumbangan Indonesia terhadap peradaban dunia.
Pembahasan
Sejarah

Masjid Mantingan yang terletak di kabupaten Jepara, merupakan masjid kuno kedua di Jawa, setelah Masjid Agung Demak, yang dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 Masehi berdasarkan candrasengkala yang terukir pada mihrab Masjid Mantingan berbunyi “Rupa Brahmana Warna Sari”. Pembangunan masjid ini berkait dengan Putra Mughayat Syah, Sultan Aceh, yang bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ke Tanah Suci dan Negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah. Ia pergi ke Jawa (Jepara) dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), Putri Sultan Trenggono, Sultan Kerajaan Demak. Akhirnya dia mendapat gelar Sultan Hadlirin dan sekaligus dinobatkan sebagai adipati Jepara hingga wafat.
Masjid Mantingan sebagai salah satu konsep Masjid-Makam-Keraton, karena di sanalah disemayamkan Sultan Hadlirin.
Bentuk Masjid Mantingan merupakan tipologi masjid kuno Jawa yaitu konstruksi atap yang menggunakan sokoguru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denah yang berbentuk segi empat, dan terdapat makam di belakang masjid.
Tinjauan Arkeologis Masjid Mantingan
Masjid
1. Lantai
Awalnya Masjid Mantingan didirikan dengan lantai tinggi dan tertutup ubin yang berbeda dengan ubin di Jawa pada umumnya. Ubin bikinan Tiongkok dengan warna hitam, dan undak-undakannya juga terbuat dari bahan yang sama. Kemudian dilakukan perbaikan, lantainya diganti ubin biasa dengan warna kuning, dan akhirnya diganti dengan batu marmer yang bertahan sampai sekarang.
2. Tembok
Tembok masjid terdiri dari dua lapisan . Lapisan dalam terbuat dari batu putih, sedangkan lapisan luar terbuat dari batu-bata merah, kemudian dilapisi dengan pasir dan semen. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar khas Cina, berwarna biru. Sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib (mihrab) dihiasi dengan relief persegi bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua . Pada dinding ini terdapat relief rendah (ukiran yang sedikit menonjol dari dasar permukaan dinding. Tonjolan atau kedalaman ukirannya bervariasi), dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Terdapat hiasan medalion bulat di dinding yang ditempel di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.
Pemugaran terakhir mengakibatkan perubahan bentuk masjid tiang serambi depan di bongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.
3. Tiang
Tiang Masjid Mantingan terbuat dari kayu saka seperti di masjid-masjid kuno yang ada di Jawa . Setelah pemugaran terakhir tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah .
4. Pintu
Masjid Mantingan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda, ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Kalau diperhatikan warna pintu Masjid Mantingan mengingatkan pada pintu bergaya Cina, seperti di Klenteng. Pintu masjid memiliki warna merah, berbeda dengan masjid kuno di Jawa pada umumnya yang berwarna coklat.
5. Atap
Atap Masjid Mantingan pertama kali sebelum pemugaran memiliki kemiripan dengan atap tumpang bersusun tiga. Namun, setelah pemugaran menjadi satu atap. Bangunan atap termasuk bubungan gaya Tiongkok terlihat dari bentuknya yang mirip pelana, dengan ujung yang melengkung ke atas, yang disebut sebagai model Ngang Shan. Awal berdiri atap masjid ini terbuat dari genteng kayu, kemudian diganti dengan genteng tanah liat dari mayong. Tapi akhirnya dikembalikan oleh dinas kepurbakalaan menjadi genteng kayu lagi.
6. Ragam Hias
Ragam hias yang terdapat di Mantingan sangat menarik karena hiasan yang berbentuk relief dipahatkan pada panel-panel. Bentuk panel ada yang bulat (medalion), roset, bujur sangkar, empat persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk lengkung kurawal, dan ada pula berbentuk kelelawar. Panel-panel ini berisi relief yang menggambarkan.
-Tumbuh-tumbuhan ,daun dan ,bunga . missalnya, teratai, sulur-suluran, labu air,
 pandan, kangkung, nipah, bambu, paku, kelapa, sagu dan kamboja.
-Binatang yang disamarkan seperti angsa, burung, ular, kuda, kijang, gajah, kera,
 ketam dan kelelawar.
-Rumah panggung, pagar, gapura dan bentar.
-Gunung dan matahari.
-Motif makara yang disamarkan.
-Anyaman (jalinan).
Kalau diperhatikan kebanyakan relief memiliki kemiripan dengan relief atau ukiran dari Cina .Hal ini menunjukkan pengaruh dari Seni Budaya Cina terhadap Masjid Mantingan.
7. Bahan Bangunan
Bahan bangunan masjid kebanyakan terbuat dari kayu yang berasal dari Mantingan. Patih Sungging Badar Duwung atau yang sering dipanggil Tjie Wie Gwan, juga meminta untuk  mendatangkan beberapa hiasan dan ubin dari Makau. Sementara ukiran masjid menggunakan batu putih yang saat itu banyak tersedia di Mantingan.
Gapura
Masjid Mantingan memiliki gapura yang terletak di jalan menuju masjid, dekat masjid, dan makam .Gapura di jalan menuju makam telah mengalami pemugaran, yang mengakibatkan perubahan bentuk Gapura. Gapura di masjid dan makam mirip dengan Candi Panataran, Jawa Timur. Kedua Gapura ini sangat mirip, hanya saja di makam terdapat pintu.
Makam
Makam Mantingan terletak di belakang masjid. Letaknya membujur kebelakang, terdiri atas tiga bagian. Masing masing bagian dibatasi dengan tembok dan memiliki pintu gerbang. Sesuai dengan bentuk makam kuno, letak makam menunjukkan kedudukan sosial dari orang yang dimakamkan. Teras pertama letaknya paling bawah merupakan pemakaman umum, teras kedua untuk pemakaman orang yang statusnya cukup tinggi termasuk abdi terdekat Ratu Kalinyamat. Sedangkan teras ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya tinggi, terutama yang di dalam cungkup.Teras terbawah, pintu gerbangnya berupa candi bentar yang terbuat dari batu bata. Pintu ini seperti candi terbelah yang di tengahnya bisa untuk dilewati pengunjung. Diantara teras bawah dan teras berikutnya diberi sekat berupa tembok keliling yang juga terbuat dari batu bata merah. Sedangkan teras teratas pintu gerbangnya berupa Paduraksa, yaitu semacam candi yang bagian tengahnya berlubang. Pada lubang ini ada pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk gerbang semacam ini dalam pemakaman jawa dikenal sebagai tempat suci atau disucikan. Pada teras teratas, terdapat bangunan cungkup makam terbuat dari bata merah dan memiliki 2 pintu. Diantara 2 pintu ini terdapat papan batu putih bertuliskan ‘’ Yasanipun Kanjeng Raden Mas Panji Sosroningrat. Tumenggung Nagari Jepara 1812’’. Pada makam dalam cungkup ini dimakamkan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadirin dan keluarga dekatnya. Batu nisan pada makam Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat dihias dengan ornamen, sebagai tanda pemakaman seorang pemimpin atau keluarga raja.
Keunikan Masjid Mantingan
Keindahan Masjid Mantingan dari segi arsitektural memiliki konstruksi bangunan yang kuat dan banyak ornamen yang diterapkan. Keberadaan masjid dan makam tidak dapat terpisahkan. Masjid dan makam memiliki posisi yang khas. Letak makam yang berada disebelah barat masjid, memberikan kesan penghormatan terhadap tokoh-tokoh penting seperti, Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.
Pengaruh Kebudayaan dan Kesenian di Masjid Mantingan
Masjid Mantingan merupakan masjid yang mendapat pengaruh dari beberapa kesenian dan kebudayaan, yang dapat dilihat persamaannya dengan kesenian dan kebudayaan lain. Pengaruh kebudayaannya sebagai berikut:
Hindu

Adanya perbedaan motif ukir di Jepara dengan motif ukir di Masjid Mantingan, dan persamaan motif ukiran Masjid Mantingan dengan motif ukir kerajaan Hindu, menunjukkan pengaruh kebudayaan di masjid tersebut. Cerita Ramayana di balik relief dan bentuk gapura yang menyerupai gapura di Candi Panataran Jawa Timur merupakan pengaruh kebudayaan Hindu. Ciri-ciri dari motif Majapahit secara umum merupakan kombinasi antara bentuk cekung dan cembung, yang mirip di Masjid Mantingan.


Jawa
Kompleks makam yang dibuat atas tiga bagian dan masing-masing bagian dibatasi dengan tembok dan memiliki pintu gerbang, merupakan ciri dari kehidupan orang Jawa dalam memberikan penghormatan pada penguasa dengan menunjukkan kedudukan sosial.
Cina
Motif relief yang ada di Masjid Mantingan mirip dengan budaya Cina dalam Arsitektur.Yaitu ornamen yang ada beragam, dari ornamen geometris,
motif tanaman, dan binatang.
Bukan hanya pada relief yang mendapat pengaruh dari kebudayaan dan kesenian Cina, sebagian besar bangunan di kompleks Masjid Mantingan mendapat pengaruh dari Cina. Misalnya, pada pintu utama masjid yang berwarna merah , dan berbeda dengan pintu Masjid di Jawa pada umumnya yang berwarna cokelat.
Islam
Mungkin orang awam yang melihat hiasan masjid ini, menganggap sebagai hiasan biasa. Namun apabila di tela’ah, akan terlihat pengaruh kebudayaan dan kesenian Islam pada masjid ini. Yaitu relief-relief berbentuk hewan dan manusia, yang disamarkan dengan macam-macam tumbuhan dan kaligrafi.
Dari sekian pengaruh kebudayaan dan kesenian di Masjid Mantingan, Cina yang banyak berperan pada pengaruh masjid tersebut. Dengan demikian memperkuat teori yang telah ada, yaitu Islam datang ke Nusantara dibawa dari Arab , Persia ( Timur Tengah ), India, dan Cina.
Simpulan
Masjid Mantingan merupakan sebuah bangunan yang terpengaruh akulturasi kebudayaan dan kesenian. Masjid ini di bangun pada masa peralihan dari peradaban Hindu-Buddha ke peradaban Islam. Dapat dilihat dari ciri-ciri bangunan dan relief yang ada di masjid ini, dan diketahui asal-usul dari peradaban Islam di Nusantara dan dunia. Kemajuan peradaban Islam di masa itu , khususnya dari kebudayaan dan kesenian sangatlah pesat .Hal ini berbanding lurus dengan peradaban Islam di dunia. Bangunan ini memperkuat teori yang telah ada, yaitu Islam datang ke Nusantara dibawa dari Arab, Persia ( Timur Tengah ), India, dan Cina. Sebagai orang Indonesia khusunya generasi muda, hendaknya mengetahui dan mempelajari nilai-nilai sejarah suatu bangunan di daerah sekitar.Dengan mengetahui sejarah tersebut, dapat pula mengetahui, bagaimana peradaban di masa tersebut. Belum adanya pencatatan tertulis mengenai sejarah Masjid Mantingan secara jelas, menimbulkan perbedaan pendapat antara satu orang dengan orang lain. Oleh karena itu, penulis menyarankan kepada Pemerintah untuk membuat naskah sejarah yang jelas dan benar, agar tidak timbul perbedaan pendapat mengenai sejarah Masjid ini. Sejarah adalah ilmu yang didasarkan pada teori dan kenyataan yang ada, bukan ilmu yang didasarkan pada pendapat.

Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Mantingan. Akses: 26 Oktober 2015. Pukul: 22.00 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Relief. Akses: 28 Oktober 2015. Pukul: 07.10 WIB.
Mundzirin Yusuf,dkk. Sejarah Peradaban Islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Pustaka, 2006.
Mustafiq Shiddiqin. Motif-Motif  Kerajaan. fattah-mustafiqshiddiqin.blogspot.co.id. Akses: 27 Oktober 2015. Pukul: 19.00 WIB.
Toto Ringgo. Hiasan Ukir Dinding. durantique.blogspot.co.id. Akses: 27 Oktober 2015. Pukul: 19.00 WIB.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar